Orbitin - Alasan mengapa banyak sarjana S1 menganggur!
Ya benar, data terkini menunjukan hampir dari ribuan lulusan sarjana S1 menganggur. Hampir setiap hari mungkin, mereka berjibaku mengirim lamaran kerja kesana kemari, berdesak-desakan disetiap diselenggarakannya Job Fair hanya untuk mengambil formulir pendaftaran, dengan peluh dan keringat disekujur tubuh, dengan wajah kusut dan rasa frustasi yang tinggi.

Tak ada yang lebih pedih daripada menjadi seorang pengangguran, apalagi menyandang sebagai pengangguran terdidik, hehee. Masa kuliah anda yang berjalan selama 4-5 tahun seperti terbuang sia-sia, juga biaya kuliah dari orang tua yang tidak bisa anda manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Harga diri seorang pengangguran juga bisa dibilang termehek-mehek, apalagi nanti kalau pas ada acara kumpul-kumpul atau pas lebaran ditanyai "Oh sudah lulus ya?, sekarang kerja dimana?", kemudian menjawab "masih pengangguran bude pade hhee..", pedih dan galau jadi satu.
Jadi, mengapa ribuan lulusan S1 masih jadi pengangguran?
Ada setidaknya lima alasan atau faktor kunci yang bisa saya jabarkan atau jelaskan kepada anda (pembaca), kenapa banyak lulusan dari sarjana S1 yang masih menjadi pengangguran.
Mari kita bedah satu demi satu :

1. Low Economic Growth




Pada akhirnya, elemen ini adalah salah satu faktor kunci yang menentukan angka dari pengangguran sebuah negara yang ada. Sejatinya, berdasarkan rumus standar internasional, angka pengangguran di Indonesia hanya sekitar 5,18% dan itu masih relatif bagus, dibandingkan dengan misalnya angka pengangguran di Prancis yang tembus sampai 9% atau bahkan di Spanyol yang lebih parah hingga sampai 23%.
Idealnya, angka pengangguran itu sebaiknya sekitar 3%, kalau lebih rendah malah bisa bahaya karena industri atau perusahaan akan sangat sulit untuk mencari tenaga kerja baru.
Nah, untuk mencapai angka pengangguran yang ideal, butuh pertumbuhan ekonomi yang maknyus atau sekitar 8-10%. Data terakhir pada awal tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sekitar 4,7%, masih jauh dari harapan.
Ngemeng2, dinegara-negara maju pertumbuhan ekonomi sebesar 3% sudah dinilai sangat bagus. Untuk negera emerging countries seperti India, China dan Indonesia, pertumbuhan yang dianggap fenomena adalah sekitar 7% keatas, (India dan China bisa melakukannya berulang kali tapi Indonesia belum)
Pertumbuhan ekonomi yang kurang bagus membuat industri dan perusahaan enggan melakukan ekspansi. Artinya kebutuhan tenaga kerja baru juga stagnan dan munculah barisan masif pengangguran sarjana S1.

2. Overqualified Skills




Secara mengejutkan data yang menunjukan secara presentase, jumlah lulusan S1 yang masih menganggur ternyata lebih tinggi dibanding lulusan SMA/SMK atau bahkan SLTP (Maksudnya dari total lulusan sarjana, yang menganggur lebih banyak dibanding yang lulusan SMA/SMK).
Dengan kata lain seccara presentase, lulusan SMA/SMK lebih banyak yang terserap dalam lapangan kerja dibanding para lulusan S1 "waduh ngeri, mending dulu gak usah kuliah yak, wkwk".
Kenapa bisa begitu? Sederhana : karena kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh banyak industri di tanah air cukup sebatas lulusan SMA/SMK saja. Ribuan pabrik atau industri di Indonesia masih berada dalam level 'Tukang Jahit' belum melangkah kedalam vase advanced, karena kelasnya yang masih didalam level tukang jahit ya butuhnya cukup yang lulusan SMA/SMK, ngapain cari yang lulusan S1 nanti malah sok gengsi dan malah minta gaji mahal wkwk.
Demikian juga disektor perdagangan, ribuan toko yang ada dipasar ataupun yang ada didalam mall atau ruko  pun hanya butuh penjaga toko yang lulusan SMA/SMK saja. Memangnya, lulusan S1 mau suruh jaga toko Hp di Rita Mall / Pacific? malu keleus wkwk.

3. Too Many Social Graduates




Di tanah air ini mungkin terlalu banyak lulusan jurusan sosial humaniora ( Ekonomi, Hukum, Management, Sospol, Sastra, Komputer apalagi Kebidanan/Keperawatan, dst).
Dan ini sebagai contoh, dari hampir semua kampus di Indonesia pasti akan ada Fakultas Hukum dan Ekonomi, padahal mungkin kebutuhan dari dua fakultas ini tidak sebanyak pasokan jumlah sarjana yang lulus, over supply. Akhirnya jadi pengangguran.
Demikian juga, dari ribuan sarjana sosial yang lulus dapat ditemui fakta bahwa gelar yang mereka pegang ternyata tidak laku dipasaran dan akhirnya jadilah pengangguran lagi.
Di sisi lain, sebenarnya kita sangat kekurangan jumlah sarjana teknik (Engineering) dan dalam penelitian negara kita Indonesia kekurangan sekitar 120 ribu insinyur, padahal ada ribuan kilometer jalan raya dan ribuan megawatt listrik yang harus dibangun dan semua ini membutuhkan seorang insinyur teknik. Masa yang mau bangun jalan tol dan menara SUTET lulusan dari sarjana sastra jawa, kan ngeri bray wkwk.
Ngemeng2, dari Studi World Bank menunjukan jumlah lulusan engineering sebuah negara akan berbanding lurus dengan kemajuan bangsa itu. Secara presentase, lulusan sarjana teknik di Jepang, Korea, Taiwan dan China sangatlah tinggi maka tak heran bila negara mereka telah menjelma menjadi negara yang maju.

4. Stupid Graduated




Selain faktor-faktor makro yang sudah saya jelaskan diatas, mungkin banyak pengangguran karena dari faktor sarjananya sendiri yang tulalit. Maksudnya banyak lulusan sarjana S1 yang penguasaan teori dan kapasitas intelektualnya tidak kapabel.
Banyak orang suka bilang, "ahh percuma, kuliah itu kebanyakan teori" sebenarnya ini statement atau pernyataan yang agak bodoh. Untuk menjadi seorang sarjana top ya penguasaan teori atas bidang ilmu yang kamu pelajari harus benar benar ngelothok atau diluar kepala. Anda tidak akan mungkin bisa menjadi profesional yang hebat kalau penguasaan teori anda amburadul.
Kalau anda mau menjadi manager marketing yang hebat, ya anda harus paham benar tentang teori perilaku konsumen, teori tentang branding dan teori tentang strategi pemasaran. Kalau anda mau menjadi manager HRD yang hebat ya anda harus belajar dan anda harus paham teori tentang hukum kapital, teori tentang talent management, dan seterusnya.
Sekali lagi, anda hanya akan mudah menjadi pengangguran atau karyawan abal-abal jika penguasaan teori akan bidang kerja anda sangat buruk.
Maka masalahnya bukanlah (Kuliah itu cuma kebanyakan teori) tapi masalahnya justru banyak lulusan dari S1 yang penguasaan teorinya Nol Besar maka wajar kalaupun mereka menjadi pengangguran.
Mungkin karena di era digital seperti sekarang ini, mayoritas mahasiswa lebih asyik baca status di sosial media daripada baca buku berkualitas setebal 300 lembar. Jadi tidak ada istilah kalau kuliah itu hanya teori saja, semuanya tergantung dari si sarjana itu sendiri.

5. No "Wow" Factor




Baiklah, ini adalah faktor yang terakhir. Kalau faktor yang ke empat menyangkut faktor atau aspek kognitif (Daya Intelektualitas dan penguasaan ilmu dan teori), maka faktor yang kelima ini adalah menyangkut dari hasil nyata. Kebanyakan sarjana nganggur karena memang mereka tidak memiliki something "WOW", hidupnya datar-datar saja dan terlalu mainstream.
Sudah penguasaan teorinya buruk, ditambah selama menjadi mahasiswa/siswi selama 4-5 tahun, tidak pernah menghasilkan sesuatu yang layak dijadikan "Penambah nilai jual" dihadapan tim dari rekrutmen, (Mungkin saat masih menjadi mahasiswa/siswi kerjanya cuma setor muka kuliah, pulang ke kosan atau kontrakan, main game offline/online, sibuk sosmed, hahahihi, sanasini, setor muka kuliah lagi, begitu terus sampai si dia lulus), hadeeh.
Lha wong tidak punya something "WOW" dan penguasaan teori buruk pula kok bermimpi diterima kerja di Chevron atau Citibank dengan mengharapkan gaji pertama langsung 10 juta rupiah perbulan, gaji 10 juta dari Arab?! wkwk.
"WOW" faktor ini memang tidak mudah untuk direngkuh. Mungkin dibutuhkan kreatifitas, daya juang, resourcefulness dan ketekunan untuk menciptakannya. Sayangnya, 95% mahasiswa tanah air mungkin tidak punya elemen-elemen pembentuk "WOW" faktor tersebut.
Tanpa "WOW" faktor, seorang lulusan sarjana tidak akan pernah bisa stand out about the crowd, dan nasib dia akan sama dengan para lulusan sarjana S1 lainnya; masuk sebagai penambah angka statistik pengangguran, hehee.

Demikianlah, faktor atau alasan kunci dari masghe mengapa sarjana S1 masih menganggur hingga saat ini. Sebagian karena alasan makro, sebagian karena faktor kompetensi diri pada lulusan itu sendiri.


Semoga anda semua (Pembaca) tidak akan menambah jumlah angka pengangguran baru untuk kelulusan sarjana tingkat S1, hehee.. salam sejahtera semua.